Picture of A. Zahraturugaisyiyah
A. Zahraturugaisyiyah

Danur: The last chapter

mdentertainment.com/pictures

Setelah 10 tahun lamanya akhirnya Danur sudah sampai penghujung sequel dengan sub judul The Last Chapter. Tentu saja pemeran utamanya masih dipegang oleh Prilly Latuconsina sebagai Risa, sedangkan untuk pemeran Riri di perankan oleh Zee Asadel (former JKT 48).

Film ini di awali dengan penampilan balet oleh Riri dan teman-temannya. Dimenit-menit awal pertunjukkannya berjalan dengan lancar namun, tiba-tiba formasinya berubah yang membuat Riri bingung sambil menengok kanan-kiri. Ambience dalam adegan ini terasa menyeramkan karena suasana teater yang sunyi ditambah kelompok ballerina ini menari dengan ekspresi kaku sekaligus BGM (background music) yang terdengar creepy.

Nah, ketika musiknya berhenti, tiba-tiba Risa naik ke atas panggung dengan membawa kue ulang tahun bersama pacar Riri (Dimas). Selain mereka memberikan kejutan ulang tahun ke Riri ternyata Dimas juga melamar Riri secara unofficial. Terlihat Dimas memberikan sekaligus memasangkan cincin setelah itu ia berkata “will you marry me” dan tentu saja Riri dengan perasaan terharu langsung menerimanya.

Setelah adegan itu, Riri berada di ruang ganti, disitu ia bertemu seorang wanita paruh baya yang bernama Laras. Laras ini adalah entitas hantu yang dimasa hidupnya juga seorang ballerina seperti Riri, saat ia masih hidup namanya ialah Canting. Laras juga mengetahui bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Riri, ia memberikannya sebuah tusuk rambut tradisional yang berwarna emas sebagai hadiah. setelah Riri pergi Laras berkata “menikah akan menghancurkan mimpimu”

Dari sinilah titik permasalahan muncul dalam film ini. Hari-hari berikutnya Riri menjadi orang yang berbeda, bahkan beberapa kali Riri mengatakan bahwa ia tidak ingin menikah. Bahkan hal ini juga mengganggu kehidupan Risa sendiri. ia selalu kerasukan dan masuk ke dunia lain, dan merasakan kematian berkali-kali.

Dari sudut pandang peresensi yang penakut, ambience yang dibangun dalam film ini sangat menyeramkan, bahkan saking menyeramkannya peresensi tidak bisa menikmati film ini dengan tenang.

Latar suasana film ini, entah mengapa selalu sunyi. Kamera selalu hanya menyorot Risa sendirian begitupun ketika menyorot Riri, padahal ada beberapa scene mereka berada ditempat umum namun tidak ada satupun pemain figuran yang lalu-lalang yang biasanya membuat film lebih realistis. 

Disisi lain film ini terlalu mengandalkan jumpscare yang berupa BGM dan SFX yang menyeramkan bahkan saat scene karakter lagi membuka pintu atau lemari decitannya dibikin sedramatis mungkin.

Di akhir cerita kita diperlihatkan masa lalu Canting yang ternyata juga dilamar diatas panggung, sama seperti Riri. Namun naasnya pernikahan Canting tak seindah itu, ia meninggal saat ia lagi hamil tua. Kematian Canting disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. 

Dari sudut pandang peresensi kelihatannya disini Canting memperingati Riri bahwa pernikahan tidak selalu berujung indah namun bisa saja berujung kematian seperti dia. Hal ini harusnya masuk akal, mengapa Canting selalu merasuki Riri. Namun disisi lain bisa saja alasan Canting selalu merasuki Riri, agar orang lain bisa merasakan penderitaannya di masa lalu. Untuk itu peresensi lebih setuju dengan asumsi pertama. 

Di sisi lain, peresensi mengira bahwa film ini akan menceritakan sisi lain dari si Dimas karena pasti ada kejanggalan dari sifat baiknya, hal ini dikarenakan sifat dari suami Canting di masa lalu. Namun ternyata tidak ada, bahkan disaat Risa melawan Canting bersama Peter cs, Dimas datang setelah pertarungan berakhir (it’s like pahlawan kesiangan)

Nah yang lebih membingungkan lagi dari ending film ini, Riri tetap menikah dengan si Dimas. Sebagai peresensi tentu saja mempertanyakan apa gunanya kita diperlihatkan masa lalu Canting jika ujung-ujungnya hanya digunakan sebagai bumbu dari film ini. 

So, dari segi pembangunan ambience pemilihan BGM maupun SFX tentu menyeramkan untuk orang yang penakut (seperti peresensi). Namun, untuk alur cerita dari film ini rasanya agak lompat-lompat. Disclaimer, peresensi hanya nonton Danur 1 saja dan langsung Danur: The Last Chapter, jadi memungkinkan banyak hal terlewatkan oleh peresensi.