
Sebagai manusia, kita memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan primer (sandang, papan, dan pangan) seringkali dianggap sebagai kebutuhan utama yang wajib dipenuhi agar kehidupan dapat berjalan dengan baik. Namun, ada satu kebutuhan penting yang sering terlupakan oleh banyak orang, yaitu membaca. Membaca sebenarnya termasuk kebutuhan primer, karena melalui membaca, manusia mendapatkan “nutrisi” pikiran yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan dan potensi diri.
Seringkali kita keliru dalam memandang membaca bukan sebagai kebutuhan primer. Padahal, membaca merupakan salah satu alat utama untuk mencapai kebutuhan primer. Secara fisik, memang benar bahwa sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Namun, untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut, kita membutuhkan kemampuan membaca sebagai pondasi untuk membuka peluang, mengasah potensi, dan menciptakan harapan. Oleh karena itu, perlu ada perubahan mindset yang fundamentaN untuk yaitu menggeser pandangan kita tentang membaca dari sekadar aktivitas sekunder menjadi kebutuhan primer yang esensial bagi manusia.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa kebutuhan primer harus dipenuhi dulu baru kemudian membaca dapat dilakukan. Pendapat ini bisa dimengerti, terutama jika kita menganggap membaca hanya terbatas pada buku teks yang harganya mahal, sementara kebutuhan makanan lebih mendesak. Namun, pada era sekarang, membaca tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai kebutuhan sekunder. Membaca bisa masuk ke dalam kedua kategori kebutuhan primer dan sekunder, tergantung pada konteks dan sudut pandang kita.
Jika kita mempertanyakan apakah membaca berkaitan langsung dengan kebutuhan fisik manusia, jawabannya memang tidak. Namun, kita perlu memahami bahwa membaca adalah kebutuhan primer, dalam konteks primer atau kebutuhan esensial untuk perkembangan pikiran dan pengetahuan manusia. Membaca adalah bagian dari fitrah manusia — sebagai makhluk yang berakal dan berpikir.
Membaca sangat penting dalam pengembangan kapasitas seseorang. Terlebih lagi, setiap individu telah dibekali modal pikiran yang diperuntukkan agar menjadi pribadi yang berwawasan luas. Sebagai contoh sejarah, kita bisa menilik sosok Karaeng Pattingalloang, seorang tokoh intelektual, yakni Karaeng Pattingalloang memberikan dampak besar bagi kerajaan lewat ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ia membangun perpustakaan pribadi yang berisi berbagai koleksi buku, atlas Eropa, dan bola dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Karaeng Pattingalloang sangat menghargai membaca, cinta pengetahuan dan memahami kondisi sekitar sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengambilan keputusan.
Membaca sendiri sebenarnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu membaca teks (tekstual) dan membaca alam (kontekstual). Sayangnya, di era modern ini, banyak orang hanya tertarik pada membaca teks saja dan melupakan kemampuan membaca situasi dan kondisi sekitar mereka. Padahal, kemampuan membaca fenomena/alam ini sangat penting untuk bisa beradaptasi dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan.
Ketika manusia menghadirkan tradisi literasi membaca tapi tidak mengkaitkan nama tuhan, ia hanya menghasilakan peradaban-peradaban material yang menghadirkan berbagai macam kesenangan tapi tidak bisa menjanjikan ketenangan. Membaca harus menghadirkan ketenangan bukan menghadirkan kesenangan. Ketenangan hidup harua menjadi bagian penting dari sebuah kesenangan hidup
Dengan demikian, membaca adalah fondasi utama dalam memenuhi kebutuhan primer manusia. Membaca membuka cakrawala, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Karena itu, membaca bukan sekadar kebutuhan sekunder yang bisa ditunda, melainkan untuk memenuhi kebutuhan primer yang harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.