Reportakawan—Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan, bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Provinsi Sulawesi Selatan, menggelar Apel Besar dan Seminar Kepustakawanan 2026 untuk memperingati Hari Pustakawan Indonesia yang jatuh setiap 7 Juli. Penetapan tanggal tersebut merujuk pada Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 81/M/2025.
Apel besar digelar di halaman Gedung Layanan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa, 7 Juni 2026. Acara ini diikuti oleh jajaran pejabat struktural Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, purnabakti pegawai dinas, pegiat literasi, serta pustakawan dan pengelola perpustakaan dari berbagai jenjang—mulai dari perpustakaan umum provinsi dan kabupaten/kota, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan khusus se-Sulawesi Selatan.
Bertindak sebagai pembina apel, Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., M.P.Si., Psikolog, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sebuah seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat tekad, mempererat persaudaraan profesi, sekaligus meneguhkan kembali komitmen bahwa pustakawan adalah garda terdepan dalam membangun masyarakat yang cerdas, kritis, kreatif, dan berkarakter melalui layanan perpustakaan.
”Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh gedung-gedung yang tinggi, bukan hanya dibangun oleh jalan-jalan yang megah, tetapi dibangun oleh masyarakat yang cerdas, dan masyarakat yang cerdas lahir dari budaya membaca, budaya membaca tumbuh dari perpustakaan, dan perpustakaan hidup karena ada pustakawan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jufri juga mengajak seluruh pustakawan di Sulawesi Selatan untuk memperkuat lima komitmen utama ke depan, yaitu: terus meningkatkan kompetensi seiring perkembangan zaman; menghadirkan layanan perpustakaan yang ramah, inklusif, inovatif, dan sesuai kebutuhan masyarakat; memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas, dunia usaha, dan media; memanfaatkan teknologi digital serta kecerdasan buatan secara bijak untuk mendukung layanan; dan menjaga integritas profesi melalui etika, disiplin, serta semangat melayani.
Selain apel besar, momentum Hari Pustakawan Indonesia tahun ini juga diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah pustakawan berprestasi se-Sulawesi Selatan. Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Prof. Muhammad Jufri, didampingi Ketua IPI Sulsel Syamsul Arif, S.Sos., M.A, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi para pustakawan dalam memajukan layanan perpustakaan di daerah.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan Seminar Kepustakawanan bertempat di Ballroom Andalan, Gedung Perpustakaan Multimedia Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Seminar ini diikuti sekitar 240 peserta yang terdiri dari pustakawan dinas provinsi dan kabupaten/kota, perguruan tinggi, sekolah, perpustakaan khusus, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta para pegiat literasi.
Mengusung tema “Meneguhkan Peran Strategis Pustakawan dalam Mewujudkan Perpustakaan Berdampak bagi Masyarakat,” seminar ini dibuka langsung oleh Prof. Muhammad Jufri yang juga bertindak sebagai pembicara kunci. Tiga narasumber turut hadir memberikan materi, yakni Moh. Hasan, S.H., M.H. (Pustakawan Ahli Utama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan), Dr. Iskandar, S.Sos., MM (Pustakawan Universitas Hasanuddin), dan Dr. Irsan, S.I.P., M.I.P (Pustakawan sekaligus Ketua IPI Kabupaten Enrekang). Jalannya diskusi dipandu oleh moderator Dini Nurul Nazhifah, S.IP, Pustakawan dari STIA LAN Makassar.
Sementara itu, Ketua IPI Sulsel, Syamsul Arif, S.Sos., M.A, dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini digelar sebagai momentum penguatan profesionalisme pustakawan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mempererat hubungan dan solidaritas antarpustakawan dari berbagai jenis perpustakaan di Sulawesi Selatan, meningkatkan wawasan dan kapasitas dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi dan transformasi digital, sekaligus menegaskan kembali peran pustakawan sebagai agen literasi dan pendorong pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan yang memberi dampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat.
(Ard/Rif)




