Picture of Admin
Admin

Pidato Muhammad Yamin dalam Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia

Disampaikan pada tanggal 25 Maret 1954 pada pembukaan Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia di Jakarta (Madjalah Resmi PAPSI, th. 1, no. 1 (1954):2-7), dimuat secara utuh di dalam buku Kiprah Pustakawan: Seperempat Abad Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-1998. Pidato tersebut disalin dan dialihmedia sesuai ejaan yang disempurnakan sebagai berikut:

Saudara-saudara hadirin terhormat,

Kami terlebih dahulu ingin melahirkan rasa gembira dan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara sekalian.

Pada saat ini, di sini berkumpul utusan-utusan dan ahli-ahli perpustakaan yang memang telah pada tempatnya turut memperbincangkan segala sesuatu mengenai perpustakaan di Tanah Air kita.

Indonesia sedang berusaha mengejar kemajuan dan pengembangan dalam segala lapangan. Untuk pembangunan nasional ini Pemerintah dan rakyat telah Menyusun dan melaksanakan rencana nasional dan telah acap kali mengadakan perundingan maupun konprensi-konperensi nasional, bahkan telah turut aktif di dalam konperensi-konperensi dan usaha nasional.

Bagi lapangan perpustakaan baru inilah konperensi yang pertama-tama kali untuk seluruh Indonesia. Kita semua menginsyafi, bagaimana penting dan berfaedahnya perpustakaan bagi suatu negara dan bangsa. Makin maju suatu negara dan rakyatnya, makin luas dan mendesak perpustakaannya.

Funsi perpustakaan bagi masyarakat dan bangsa seluruhnya tidal sedikit dan sebenarnya tidak mudah pula mengaturkannya dengan singkat. Ia mempunyai fungsi intelektual sebagai sumber ilmu pengetahuan, juga ia mempunyai fungsi ekonomis, fungsi social dan kulturil sebagai sumber, alat pengubung dan tempat memelihara bahan-bahan bernilai.

Dalam rangkaian rencana dan usaha pembangunan nasional kita jelaslah, bahwa perpustakaan harus mendapat perhatian dan pelayanan yang sewajarnya.

Yang sewajarnya, kami katakana, oleh karena pertumbuhan dan perkembangannya itu tidal dapat pula dipaksakan. Empat-lima tahun yang lalu jumlah sekolah-sekolah kita masih sangat terbatas dan bangsa kita masih banyak yang buta huruf.

Pada dewasa ini kemajuan di dalam Pendidikan khususnya di dalam berbagai-bagai lapangan umumnya telah menggelorakan semangat ingin maju dan keinginan menuntut ilmu maka perpustakaan kita harus dapat mengikuti perkembangan itu.

Kami bergembira bahwa memang demikian lah keadaannya. Berkat perhatian dan usaha pemerintah, di seluruh Indonesia telah tersebar perpustakaan, bahkan telah sampai ke desa-desa. Pendidikan ahli-ahli perpustakaan telah kita mulai dengan mengirim petugas-petugas ke luar negeri dan dengan mengadakan kursus perpustakaan.

Keinsyafan dan usaha pihak masyarakat telah pula melahirkan berbagai perpustakaan dan akhir-akhir ini beberapa asosiasi ahli-ahli perpustakaan

Di sini kami dapat mengatakan bahwa kemajuan tersebut bukan saja menggembirakan kita tetapi juga telah mengagumkan pihak luaran Tuan Dunningham, ahli perpustakaan Unesco yang telah bekerja di Indonesia lebih dari setahun lamanya, di dalam laporannya mengatakan bahwa relative kemajuan yang dicapai Indonesia dalam lapangan perpustakaan tidak ada bandingannya di seluruh dunia.

Dalam pada itu pemerintah mengetahui dan saudara-saudara semua tentu merasakan bahwa organisasi, pengetahuan teknis dan tenaga-tenaga ahli kita perlu pula kita sempurnakan majukan dan pertinggi mutunya.

Sebagian besar kemajuan dan kesempurnaan tersebut bergantung pada tenaga-tenaga ahli kita pada Kerjasama dan koordinasi antara semua perpustakaan.

Inilah yang mendorongkan Pemerintah supata konperensi ini berlangsung yaitu menurut kutipan putusan Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan tanggal 27 Februari 1954. Pimpinannya diserahkan kepada Sdr. Sadarheon Siswomartojo, Kepala Jawatan Pendidikan Masyarakat dan yang mendorongkan itu pertama kali ialah terkumpulnya bahan di Kementrian tentang perkembangan perpustakaan di Indonesia pada waktu yang akhir-akhir ini.

Kemudia telah kita baca pelaporan dari Tuan Dunningham Library Adviser dari Unesco an pula membaca surat dari M.N. Masud, head Technical Assistance Mission, dan ketiga-tiganya itu mendorongkan kita supaya meninjay sebaik-baiknta perkembangan perpustakaan ini.

Maka dalam undangan inilah juga disebutkan 24 undangan kepada ahli-ahli perpustakaan di seluruh Indonesia dan bertambah lagi dengan seorang dari Makassar yang memberi minat besar kepada perkembangan perpustakaan di selurug timur Indonesia dan terutama di Sulawesi.

Maka perlu lah pula kita catat walaupun tidak hadir di sini yaitu istimewa yang mendapat perhatian dari Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yaitu Perpustakaan Archief di Gedung Merah di Kota dan pula perpustakaan pelontaran di Singaraja yang berhubungan rapat dengan Kementrian yang saya pimpin.

Maka tentu saja dalam hal ini banyak barangkali yang belum dapat diundang atau tidak sanggup datang, tetapi semuanya sudah menjadi perhatian konperensi ini dengan bekerja bersama-sama dengan Parlemen. DPR, begitu pula Kementrian-Kementrian yang lain terutama Kementerian Penerangan, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian-kementerian lain yang tidak perlu saya sebutkan di sini.

Maka yang menjadi bahan di dalam konperensi ini telah saya tuliskan dengan ringkas. Selain daripada bahan-bahan yang telah dimiliki oleh Kementerian juga pelaporan dari Tuan Dunningham dan surat-surat M.N. Masud, kedua-keduanya dari Unesco bersama pula dengan buku kecil yang telah dikeluarkan yaitu Pedoman Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia yang telah disebarkan dalam konperensi ini.

Maka menghadapi ini pertama kali, juga selaindari pada pekerjaan-pekerjaan yang akan ditinjau yang berhubungan langsung dengan perpustakaan juga mengenao organisasi, hendaklah ditinjau tentang kemungkinan hendak mendirikan Dewan Perpustakaan Nasioanl, yang akan mengadakan koordinasi dan mengawasi dan memberi nasihat dalam hal-hal ini kepada Pemerintah yang berhubungan langsung dengan perpustakaan.

Juga hendaklah ditinjau kemungkinan mendirikan satu Persatuan Ahli Petugas dan Perpustakaan untuk Seluruh Indonesia yang sangat penting karena pekerjaan-pekerjaan itu hendaklah demikian efisiennya berhubung dengan perkembangan perpustakaan pada hari yang akan datang dan waktu yang sudah lalu.

Demikian pula tentang Pendidikan dari pada petugas-petugas ini di tanah Indonesia dan juga di mana mungkin juga dapat dilanjutkan di luar negeri. Hendaklah ketiga-tinganya ini ditinjau sebaik-baiknya.

Selain daripada ini dan pekerjaan perpustakaan ini dan organisasi itu adalah pula yang saua minta perhatian yaitu kepada tiga hal.

Yang pertama yaitu: Dalam perpustakaan-perpustakaan kita sekarang ini banyak naskah-naskah yang ditulis oleh bangsa kita sendiri dan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Artinya bukan karena kealpaan dari pada petugas-petugas atau perpustakaan itu melainkan oleh karena naskah-naskah ayau pelontaran itu sudah dikejar oleh lamanya waktu, sehingga pada waktu yang akan datang akan menghadapi suatu debacle. Sehingga boleh dipikirkan bahwa misalnya naskah-naskah dalam Bahasa jawa dan Bahasa-bahasa Indonesia yang lain akan rusak binasa hingga simpanan tidak akan memberi manfaat lagi kepada perkembangan pengetahuan di tanah air kita. Hendaklah hal ini juga dipikirkan, bagaimana untuk mencegah supaya jangan musnah.

Demikianpula kepentingan-kepantingan yang berhubungan denga penyalinan naskah-naskah ini dan juga naskah-naskah dari luar negeri yang penting buat Indonesia dengan membuat microfoto. Maka microfoto adalah sangat modern dan dari saudara Perdana Menteri saya mendapat nasihat supaya dimintakan perhatian kepada Kementerian Penerangan untuk memungkinkan membuta microfoto di tanah Indonesia, baik kepada naskah-naskah atau lontar ataupun dari pada benda-benda archief Kompeni di Gedung Merah di Kota dan juga membuat microfoto di luar yang sangat penting buat perkembangan pengetahuan kita. Dan selain dari pada buat mencegah secara teknis dan juga memungkinkan membuat microfoto adalah pula juga mebuat fotocopien dari pada barang yang diperlukan dari perpustakaan untuk kepentingan, misalnya Parlemen atau Pendidikan-pendidikan penyelidikan pengetahuan.

Jadi untuk tig aini saya minta perhatian supaya dapat ditinjau dan memungkinkan pada hari yang akan datang begitu pentingnya bagi perkembangan perpustakaan kita pada hari yang akan datang.

Selanjutnya maka dalam buku pedoman ini ada disiarkan beberapa pemandangan-pemandangan yang sangat berharga bagi konperensi ini. Oleh sebab itu saya minta perhatian, supaya mendapat sungguh-sungguh manfaat yang memeberi baha untuk memajukan perpustakaan kita yang maju pesat itu supaya bertambah pesat lagi.

Maka selain daripada yang saya sebutkan tadi itu, perlulah saya menambahkan sebagai pengalaman saya pada beberapa perpustakaan sewaktu saya mengembara di sekeliling dunia, yang perlu juga mendapat perhatian untuk membuka pikiran dan perasaan, bagaimana perpustakaan sesudah Perang Dunia kedua ini di luar negeri dapat berkembang dengan pesatnya. Misalnya perpustakaan: Leidse Bibliotheek [di Leiden, penyusun] dan Koninklijke Bibliotheek di Den Haag demikian rupanya mencapai perfeksionisme yang baik sekali, juga tentang meladeni pembaca-pembaca dan juga peminjam-peminjam itu adalah demikian rupa sampai mendapat tingkat peladenan yang sungguh dapat dipuji.

Demikian juga tentang penyimpana buku lama dan penambahan buku-buku baru sesudah Perang Dunia ini Bristish Museum [di London, penyusun] dan Bibliotheque Nationale di Paris. Ini juga memberi pernyataan kepada kita bahwa pemeliharaan buku-buku yang lama baik yang berupa naskag ataupun buku-buku antic dan juga cara meminjam buku-buku yang lama dan yang baru sesudah peperangan ini demikian rupa, supaya dapat diperhatikan bahwa perfeksionisme itu adalah memberi efiensi yang sebaik-baiknya bagi peminjam dan pembaca yang sangat teratur ditempat-tempat yang saya sebutkan tadi.

Juga pengunjungan saya kepada The Library of Congress di Washington itu yang terbesat di atas dunia ini, menyatakan pula bagaimana rapinya Teknik perpustakaan, sehingga anatara The Library Congress itu dengan Parlemen jaraknya kira-kira 200 meter dan 15 menit anggota-anggota Parlemen itu dapat segala bukunya atau surat kabarnya atau juga dengan fotokopinya dalam waktu 15 menit. Ini semuanya menyatakan bagaimana Teknik dari perpustakaan dan perfeksionisme yang dijalankan bibliotheek yang terbesar di atas dunia itu.

Juga di Lenin Library di Moskow ternyata, bahwa penyimpanan buku-buku dan juga surat kabar di tanah Indonesia ini sesudah peperangan dunia yang kedua ini sangat dimajukan. Sehingga dalam waktu yang pendek sekali kita dapat buku-buku dan surat kabar Indonesia, kalau dibutuhkan oleh pembaca atau penyelidik ilmu pengetahuan.

Begitu juga bibliotheek-bibliotheek yang lain misalnya Congress Library di Canberra dan Mitchel Library di Sydney yang menyatakan, bahwa tidak saja tentang kemungkinan membaca dan juga tentang meladeni oramh, tetapi juga cara isi buku-buku ini sangat terpelihara dan sangat sempurna tentang pengetahuan-[engetahuan Pasifik, yang tidak dapat dibaca di tanah Indonesia kit aini, hanya dapat dibaca di Mitchel Library di Sydnet,

Maka semuanya ini menyatakan, bahwa perpustakaan kita di sini memang berkembang denga baiknya. Tetapi banyak juga hal-hal yang dapat kita contoh untuk diberikan menjadi bahan untuk menyempurnakan penyelenggaraan di perpustakaan kita pada hari yang akan datang.

Saya menyebutkan beberapa perpustakaan yang besar-besar. Sama sekali saya tidak mengharapkan pemandangan, supaya kita hanya tertuju kepada perpustakaan-perpustakaan yang besar ini. Tidak demikian maksud saya karen abagi kita di sini yang sangat penting yaitu mendirikan perpustakaa-perpustakaan untuk kepentingan rakyat yang baru lepas Sebagian dari pada dunia buta huruf.

Jadi perpustakaan kita hendaklah mempunya fungsi social yang sebesar-besarnya dalam kemajuab pada hari yang akan datang dari universitas-universitas sampai ke desa-desa yang sangat diperhatikan oleh Kementerian Pendidikanm, Pengajaran dan Kebudayaan dengan bantuan Kementerian-kementerian yang lain, terutama Kementerian Penerangan dan Kementerian Sosial.

Maka inilah yang perlu saya katakana, bahwa tujuan kita ialah, supaya perpustakaan merata diseluruh tanah aiar dan dapat melayani keperluan, permintaan dan pertayaan tiap-tiap orang dimana saja ia tinggal dan bilamana saja, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan ongkos yang seringan-ringannya, mengenai buku-buku terbitan dalam negeri maupun terbitan luar negeri.

Juga dalam hal ini adalah fungsi ekonomis supaya buku-buku terbiatan bangs akita ditempatkan sebaik-baiknya. Jikalau tidak dapat dipakai sebagai buku pelajaran, dibaca dalam Perpustakaan Rakyat, baik yang dalam lingkaran sekolah kita ataupun di luar lingkaran sekolah-sekolah.

Demikian pula saya perlu mengatakan di sini bahwa tentang pemasukan buku-buku luar negeri denga perantaraan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan itu dapat diselenggarakan demikian rupa sampau kemungkinan bulu ilmu pengetahuan yang dulu sangat mahal itu dari luar negeri dicapai denga taraf yang semurah-murahnya dalam lingkungan devisa yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Sudah saatnya dan pada tempatnyalah, jika kita sekarang mengadakan konperensi ini. Pemerintah percaya, bahwa hasil-hasil pertukaran pikiran saudara semua secara luas dan teknis nanti dapat memberikan bahan-bahan dan anjuran yang sangat berharga bagi pemerintah dan masyarakat.

Sangat sata hargakan, bahwa Parlemen dan Kementerian Penerangan, Kementerian Sosial dan juga Kementerian-kementerian yang lain memberi tunjangan dan memungkinkan konperensi ini berlangsung.

Dengan ini kami membuka Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia ini mengucapkan selamat berkonperensi.

Terima kasih.