Lagi-lagi produksi film indonesia mengadaptasi film dari kisah nyata dari orang yang ada di sosial media. hal ini cukup lumrah dalam dunia perfilman indonesia. Film kali ini diambil oleh salah satu pengguna sosmed yang bernama albi dan shella, film ini berjudul “Sampai Titik Terakhirmu”.
Awal dari cerita ini kita diperlihatkan Shella yang tengah turnamen sepak bola perempuan. Disisi lain, Albi lagi pontang-panting, dia baru saja pergi ke warteg untuk makan siang dalam keadaan mengantuk. Lokasi mereka hanya berjarak kira-kira 30 meter. Disitulah bola melayang ke Albi yang tengah memegang makanannya sampai ia jatuh dan makanannya berhambur kemana-mana. Albi yang awalnya lagi ngantuk langsung buyar. Disitu Shella langsung kelabakan ke tempat Albi berada untuk membantu Albi yang terduduk. Albi yang awalnya ingin marah namun ketika ia mengangkat mukanya, saat ia melihat mukanya Shella bukannya marah namun ia jatuh cinta pada pandangan pertama ke Shella.
Nah setelah kejadian itu Shella dan Albi mulai bertemu di situasi tertentu. Selanjutnya mereka mulai pendekatan dengan cara yang cukup klise dimana mereka selalu menelpon atau vc hampir 24/7, selalu berkabar kegiatan sehari-sehari. di dunia nyata kita sering juga melihat muda mudi melakukan seperti itu.
Jika dilihat dari pembawaan karakter dari Albi dan Shella, gaya dari percintaan mereka kesannya seperti anak SMA yang lagi kasmaran. Albi jatuh cinta ke Shella karena kecantikan (I guess) Shella, sedangkan Shella yang suka ke Albi karena kehumorisannya. sebenarnya ada scene yang cukup awkward seperti ketika mereka bercakap bersama, mereka selalu ingin ketawa sebelum berbicara yang membuat scene disitu agak cringe.
Nah menurut peresensi ada bagian rancu di titik-titik tertentu dari film ini. pada awal film ini diperlihatkan keluarga Shella lagi menelpon ke “abang” untuk melapor bahwa Dide suka tidak mau mandi dan suka main di luar tanpa tau waktu. Terlihat juga di foto keluarga Shella ada 2 laki-laki dewasa harusnya itu abang dari shella bahkan kedua abang ini sepertinya muncul di scene shella lagi kritis, namun dalam cerita tidak dijelaskan siapa mereka.
Selanjutnya, scene pemotongan rambut shella, disitu karakter shella memiliki rambut hitam kecoklatan, namun saat rambut shella akan dibotakkan rambut Shella menjadi rambut hitam pekat, yah kentara kalau lagi pakai rambut palsu. kalau memang niat membuat film seharusnya pihak produksi membuat rambut pemeran shella harus disesuaikan dengan wig yang akan dipakai, kalau memang tidak mau membotakkan rambut asli di pemeran shella. namun kepala botak Shella cukup natural untuk pemeran karakter pengidap kanker.
Terakhir, penyakit dari Shella, yang mempunyai tiga jenis penyakit yang muncul secara bertahap, namun dalam film tidak dijelaskan kenapa Shella mengidap penyakit tersebut, seakan-akan bumbu mentah yang langsung dimasukkan ke masakan tanpa mengolahnya dulu. Alurnya seperti cerita-cerita di wattpad yang pemeran utamanya tiba-tiba dapat penyakit komplikasi tanpa di tahu penyebabnya apa.
Dari semua itu, walaupun alur cerita dari film ini cukup mainstream bahkan sepertinya lebih seperti sinetron, film ini cukup sukses membuat penonton yang ada di bioskop menitikkan air mata.
Lewat penggambaran dari keluarga Shella sangat berpengaruh dalam film ini. Kita diperlihatkan kehidupan keluarga Shella yang sederhana namun hangat. Dimana ada ibu yang ramah penuh kasih sayang, Dide si bungsu yang masih dalam masa toddler, ada Lidya anak tengah yang sangat jahil dan Ayah yang suka membawa makanan ketika pulang kerja. Disini Shella digambarkan sebagai kakak perempuan yang bisa diandalkan oleh keluarganya terutama dalam pekerjaan rumah.
Keluarga yang saling support satu sama lain, bahasa cinta mereka sangat tergambar dari perilaku mereka. mereka juga selalu bernyanyi bersama di saat-saat tertentu yang membuat keluarga tersebut lebih hidup.
Disclaimer peresensi bukan seseorang yang mendalami dunia perfilman bahkan bukan film enthusiast. Peresensi hanya menulis review film ini sebagai orang yang sangat awam dan kebetulan suka membuat resensi.
