
Ketika membicarakan literasi di Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa layak mendapat perhatian khusus. Bukan semata karena letaknya yang strategis atau sejarahnya yang panjang, tetapi karena Gowa menyimpan kekayaan luar biasa dalam bidang perpustakaan dan budaya membaca masyarakatnya. Bayangkan, ada ratusan perpustakaan tersebar di seluruh wilayah ini — mulai dari Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa, Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, hingga perpustakaan di institusi pendidikan tinggi seperti Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Institut Pendidikan Dalam Negeri, Universitas Islam Alauddin, dan Sekolah Tinggi Pertanian.
Menurut data Perpustakaan Nasional tahun 2024, Gowa memiliki 457 perpustakaan aktif. Dari sisi kuantitas, ini merupakan pencapaian luar biasa. Namun yang lebih menarik, durasi membaca masyarakat Gowa juga tergolong tinggi — rata-rata dua hingga hampir tiga jam per hari. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan bahwa membaca telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Tak heran jika Gowa dapat dijuluki sebagai salah satu “daerah pembaca” di Sulawesi Selatan.
Namun di balik angka-angka membanggakan itu, muncul sebuah paradoks. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Gowa justru tergolong rendah, bahkan masuk dalam tiga terbawah di provinsi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa minat baca tinggi, tetapi pemanfaatan fasilitas perpustakaan formal masih rendah?
Salah satu kemungkinan jawabannya terletak pada karakter budaya membaca masyarakat Gowa yang cenderung personal dan mandiri. Mirip dengan masyarakat Eropa pada dekade 1970-an yang lebih suka membangun perpustakaan pribadi di rumah, warga Gowa pun tampaknya lebih nyaman membaca di ruang-ruang nonformal — seperti rumah, komunitas lokal, hingga warung kopi. Data nasional pun mendukung hal ini: rumah tetap menjadi tempat favorit untuk membaca. Maka dapat disimpulkan bahwa literasi di Gowa tumbuh bukan karena lembaga, melainkan dari inisiatif warga itu sendiri — dari akar rumput.
Fenomena ini selaras dengan pola gerakan literasi di Gowa yang cenderung bersifat bottom-up. Banyak komunitas baca yang lahir secara organik, dibentuk oleh warga yang ingin berbagi pengetahuan dan menumbuhkan semangat membaca di lingkungannya. Gerakan ini sejatinya bukan hal baru. Pada awal abad ke-20, ketika akses ke perpustakaan dibatasi hanya untuk kalangan elite, masyarakat Gowa justru merespons dengan mendirikan taman-taman pustaka — sebagai bentuk perjuangan menuntut hak atas pengetahuan. Gerakan ini menjadi fondasi kultural yang menumbuhkan kebiasaan membaca dalam konteks solidaritas dan kesadaran kolektif.
Dalam konteks sejarah intelektual Sulawesi Selatan, Gowa juga dikenal sebagai tanah kelahiran banyak tokoh dan cendekiawan penting. Namun sayangnya, kita masih jarang mengetahui seperti apa proses belajar mereka. Buku apa yang mereka baca? Di mana dan bagaimana mereka membangun pemikiran? Seringkali kita hanya mengenal kontribusi mereka secara formal, tetapi sisi keseharian mereka — termasuk kebiasaan membaca dan menulis — masih minim digali.
Padahal, jika ingin membentuk generasi pembaca dan pemikir yang tangguh, kita perlu mempelajari lebih jauh cara para tokoh itu belajar dan berpikir. Kita perlu riset-riset yang tidak hanya menelusuri karya mereka, tetapi juga merekonstruksi jejak intelektual mereka: proses, tempat, bahkan ruang sosial yang membentuknya. Sejarah literasi tidak cukup dilihat dari apa yang ditulis, melainkan juga dari bagaimana kebiasaan literasi itu dibentuk.
Melihat potensi besar yang dimiliki Gowa, sudah saatnya literasi di daerah ini diposisikan bukan sekadar sebagai urusan perpustakaan, melainkan sebagai identitas sosial yang mengakar. Jiwa membaca masyarakat Gowa yang tumbuh dari kesadaran personal dan komunitas adalah kekayaan tak ternilai. Kita semua memiliki peran dalam memperkuatnya — melalui keluarga, lingkungan, institusi pendidikan, hingga kebijakan daerah.
Dan yang paling penting, perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Dari buku yang kita baca, dari percakapan yang kita bangun, dan dari kebiasaan belajar yang kita wariskan.