Picture of arrahy
arrahy

Membaca: Jalan Spiritualitas, Kesadaran, dan Gerakan Literasi

ilus/membaca

Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, kebiasaan membaca kian dianggap remeh. Banyak orang menilai bahwa membaca hanyalah perkara membuka buku dan menelusuri huruf-huruf di atas kertas. Padahal, di balik tindakan sederhana itu, tersimpan perintah Ilahi yang begitu agung — sebuah jalan untuk membentuk manusia yang berpikir, berjiwa, dan berperilaku utuh.

Kesadaran yang Semakin Pudar

Gerakan literasi hari ini kerap berhenti pada tataran seremonial: kampanye yang megah, lomba membaca, atau kegiatan simbolik yang belum menyentuh perilaku nyata. Ironinya, sebagian dari mereka yang diberi mandat untuk menumbuhkan budaya baca justru belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan pribadi.

Logika sederhananya, bagaimana seseorang bisa mengajak masyarakat gemar membaca, jika dirinya sendiri jarang membaca? Maka tidak mengherankan bila semangat literasi sering stagnan—terjebak dalam rutinitas administratif, fokus pada sertifikat, atau sekadar mengejar angka kredit.

Membaca Sebagai Ibadah dan Jalan Spiritual

Dalam pandangan Islam, aktivitas membaca bukan hanya bentuk kecerdasan intelektual, melainkan juga ibadah yang bernilai spiritual. Prof. Barsihannor dalam pidatonya menekankan, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, agar dimensi ketuhanan senantiasa hadir dalam kehidupan.”

Pesan ini menegaskan bahwa membaca tidak terbatas pada teks tertulis semata, melainkan juga mencakup kemampuan memahami fenomena alam, sosial, dan batin manusia dengan menghadirkan Tuhan di dalamnya.

Sementara itu, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa perintah Iqra tidak hanya bermakna membaca tulisan, tetapi membaca segala tanda dan peristiwa yang dapat diresapi oleh akal dan hati manusia.

Dengan demikian, membaca adalah perintah suci yang menuntun manusia untuk berpikir dengan jernih, merasakan dengan hati, dan bertindak dengan kebijaksanaan. Tanpa membaca, manusia mudah kehilangan arah, kehilangan kesadaran, bahkan kehilangan kemanusiaannya sendiri.

Membaca untuk Menyelami Kehidupan

Membaca sejatinya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi sarana untuk memahami kehidupan. Membaca diri sendiri, lingkungan sekitar, dan realitas sosial — itulah bentuk literasi paling mendasar yang menuntun manusia mengenal jati dirinya.

Tujuan membaca bukan sekadar mengetahui, melainkan memahami kebenaran dan menilai kehidupan dengan jujur. Dari kebiasaan membaca tumbuhlah empati, rasa keadilan, dan moralitas. Orang yang gemar membaca akan lebih peka terhadap ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan penderitaan di sekitarnya. Ia tidak mudah acuh, karena pikirannya telah tercerahkan oleh pengetahuan dan refleksi.

Seni Membaca dan Peran Perpustakaan

Membaca pun memiliki seninya sendiri. Dan puncak dari seni membaca itu bersemayam di perpustakaan — tempat di mana gagasan, pengalaman, dan hasil pemikiran manusia dari masa ke masa berkumpul dan diwariskan.

Perpustakaan menjadi ruang abadi bagi ide dan imajinasi, tempat hasil bacaan seseorang dapat dihidupkan kembali oleh pembaca berikutnya untuk melahirkan karya baru. Seni membaca perlu ditanamkan sejak usia dini. Ia bukan sekadar bakat alami, melainkan keterampilan yang tumbuh melalui latihan, bimbingan, dan kebiasaan. Keluarga, sekolah, dan lingkungan berperan penting dalam menumbuhkan cinta membaca.

Beruntung, bangsa ini memiliki lembaga yang secara konstitusional diberi amanah untuk menjaga dan mengembangkan budaya baca: perpustakaan, bersama para pustakawan yang mengabdikan diri di dalamnya.

Pustakawan: Nalar dan Penggerak

Pustakawan sejati bukan hanya pengelola buku, tetapi juga penggerak kesadaran intelektual masyarakat. Mereka menyalakan semangat berpikir kritis, menggugah rasa ingin tahu, dan membuka jalan menuju peradaban yang tercerahkan.

Seorang pustakawan adalah cermin dari pembaca sejati — yang membaca dengan hati, merenung dengan nurani, dan bertindak dengan kebijaksanaan.
Keputusan dan tindakannya lahir dari hasil pembacaan yang luas dan mendalam, serta selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkahnya.

Dari membaca lahir kesadaran, dari kesadaran lahir perubahan, dan perubahan sejati bermula dari hal paling sederhana: keinginan untuk membaca.