Yeon-seo sudah dua tahun berjuang menjadi penulis dongeng anak, tapi naskahnya selalu kandas di meja penerbit. Setiap kali ia mengirim cerita dengan akhir yang tidak selalu bahagia, jawabannya selalu sama: ditolak. Suatu hari, setelah penolakan yang entah keberapa kalinya, ia memutuskan mendaki gunung untuk menenangkan pikiran. Di tengah pendakian, tersesat dalam lamunan, ia bertemu Seo-ju—sosok misterius berpakaian kuno yang seolah datang dari zaman lain.
Seo-ju membawanya ke sebuah toko buku tanpa alamat maupun papan nama, tempat yang konon hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar tersesat dan butuh menemukan diri sendiri. Di sana, buku tidak dijual—hanya dibacakan. Setiap kunjungan, Seo-ju menuturkan kisah dari sebuah buku biru misterius, cerita-cerita kelam bernuansa dongeng lama yang lambat laun terasa terlalu nyata untuk sekadar fiksi.
Yang membuat novel debut So Seo-rim ini menarik bukan cuma premis “toko buku ajaib”-nya, tapi cara ia menenun fantasi, misteri, dan romansa jadi satu jalinan yang rapi. Kisah-kisah yang dibacakan Seo-ju awalnya terasa seperti dongeng berdiri sendiri—kadang tentang seorang wanita malang, kadang tentang cinta yang berakhir tragis di sebuah tebing—lengkap dengan unsur mitologi Korea seperti jeoseungsaja (dewa maut) dan usungan bunga khas prosesi kematian tradisional. Namun perlahan, kisah-kisah itu terungkap sebagai pecahan masa lalu yang ternyata menyambung langsung ke kehidupan Yeon-seo sendiri, menciptakan efek “aha” yang cukup memuaskan bagi pembaca yang sabar mengikuti alurnya.
Dari segi suasana, novel ini bergerak dari suram dan mencekam di awal, lalu berangsur menghangat—meski tetap emosional dan sedikit chaotic—menjelang akhir. Banyak pembaca menyebut atmosfernya mirip drama Korea Goblin, terutama dalam cara ia memadukan unsur horor ringan dengan kehangatan emosional dan romansa yang menyayat. Gaya bahasa terjemahannya sendiri tergolong ringan dan tidak bertele-tele, namun tetap menjaga kesan puitis, terutama dalam deskripsi tempat dan suasana toko buku itu sendiri.
Kekuatan utama buku ini terletak pada romansa yang tidak instan. Hubungan Yeon-seo dan Seo-ju terasa rumit sekaligus dewasa, karena keduanya membawa luka dan jalan hidup yang tak selalu sejalan—jauh dari tipe romansa manis tanpa konflik. Ada rasa rindu yang terpendam, rahasia yang belum terungkap, dan pertanyaan besar tentang mengapa takdir terus mempertemukan mereka lintas waktu.
Namun, novel ini bukan tanpa kekurangan. Jeda antar-bab yang cukup panjang membuat alur terasa berjalan lambat di beberapa titik, terutama karena hanya terdiri dari tiga bab ditambah satu epilog untuk keseluruhan cerita. Beberapa pembaca juga merasa fokus awal tentang perjuangan Yeon-seo sebagai penulis dongeng agak tenggelam begitu cerita bergeser ke tema reinkarnasi dan takdir. Penyelesaian konflik di bagian akhir pun terkesan agak terburu-buru dibanding pembangunan misteri di awal cerita.
Terlepas dari itu, The Bookstore of Illusion tetap layak dibaca bagi penggemar healing fiction bernuansa dongeng gelap, cerita rakyat Korea, dan kisah cinta yang melampaui hidup dan mati. Novel ini cocok dinikmati santai, sambil ditemani secangkir teh, seperti yang disarankan banyak pembaca lain.
