Sepasang Pahlawan

Oleh : Muh. Khudri Syam

10 november tiap tahunnya di peringati sebagai hari pahlawan nasional, pahlawan yang tentunya telah berjasa dengan gagah beraninya melawan serta memukul mundur penjajah saat itu. Lalu, masihkah ada pahlawan di era yang sebagian orang menyebutnya era “milenial”?

Hari pahlawan sejatinya perlu menjadi momentum awal bagi penyuara-penyuara keadilan yang kemudian mampu menjadi pahlawan untuk mereka-mereka yang tertindas, lebih dari itu perlu di ingat juga bahwa gelar pahlawan tertinggi saat ini sepatutnya menjadi milik lelaki yang telah gagah berani menafkahi serta berjuang membesarkan sampai cita serta impian kita tercapai.

Pahlawan bukan hanya mereka yang telah berjuang di medan perang saja, tetapi kata pahlawan juga bisa di sematkan pada mereka yang mempunyai sikap berani bersuara akan ketidak adilan yang ada. Bentuk ketidakadilan di era saat ini menjadi sebuah peluru yang mematikan tak jarang para penyuara keadilan justru di anggap lawan.

Begitu pula untuk seorang perempuan yang anggunnya mengandung, melahirkan dan tentu membesarkan dengan penuh tangis, tawa serta amarah.

Mereka berdua sepasang pahlawan yang memiliki tekad dan niatan yang sama melihat tawa, senyum serta kabahagiaan bagi sang anak merupakan tingkatan hasil tertinggi yang mereka dambakan.

Selamat mengenang para jasa pahlawan terdahulu dan selamat mengingat perjuangan sepasang pahlawan yang telah membuat anda ada di posisi saat ini.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, semester V.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *