
Apakah kita benar-benar lupa bahwa hari ini dan dua hari yang lalu merupakan momen penting dalam sejarah perpustakaan Indonesia? Pada 25-27 Maret 1954, tepat 74 tahun yang lalu, Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia pertama kali diselenggarakan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Momen ini tentu menjadi catatan sejarah dalam perkembangan perpustakaan di Indonesia, karena saat inilah perpustakaan mulai dikonsolidasikan secara menyeluruh.
Cikal bakalnya bermula dari survei dan laporan perpustakaan di Indonesia yang dilakukan oleh A.G.W Dunningham dan Raden Patah, yang kemudian diteruskan kepada Prof. Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan saat itu. Laporan ini menjadi pemicu lahirnya konferensi yang berlangsung selama tiga hari dan dihadiri oleh ahli-ahli perpustakaan dari seluruh Indonesia.
Konferensi ini bukan sekadar pertemuan biasa. Mereka datang bukan hanya untuk berkumpul, tetapi untuk merundingkan perpustakaan secara utuh, dengan pendekatan keindonesiaan, di tengah realitas masyarakat yang saat itu masih banyak mengalami buta huruf.
Berkat konferensi ini, asal muasal terbentuknya Dewan Perpustakaan dan Perhimpunan Ahli Perpustakaan. Saat itu dibutuhkan wadah untuk memikirkan berbagai persoalan perpustakaan—baik dari segi teknis, keterampilan, maupun kebijakan. Salah satu momen paling berkesan dalam konferensi ini adalah pidato pembukaan Muhammad Yamin pada tanggal 25 Maret 1954.
Baca Selengkapnya Pidato Muhammad Yamin (Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia)
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Indonesia harus belajar dari perpustakaan-perpustakaan besar dunia, seperti The Library of Congress di Amerika Serikat dan Bibliothèque Nationale di Paris dan masih banyak lagi. Hal ini dijadikan sebagai gambaran untuk menyempurnakan perpustakaan kita hari ini dan yang akan datang.
Namun, ia juga menekankan bahwa perpustakaan di Indonesia harus memiliki peranan sosial dan budaya yang luas, sebagai alat penghubung ilmu pengetahuan masyarakat, menjangkau seluruh pelosok negeri, dan benar-benar melayani kebutuhan masyarakat.
Harapan Muhammad Yamin saat itu jelas, konferensi ini harus melahirkan gagasan dan rekomendasi nyata demi kemajuan perpustakaan Indonesia. Dengan dukungan dari pemerintah, parlemen, dan kementerian terkait, ia yakin bahwa perpustakaan bisa berkembang pesat, bukan sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi sebagai pusat ilmu yang hidup dan berdaya fungsi.
Namun, apa yang terjadi hari ini? Kita lebih sering memperingati hari-hari besar perpustakaan dengan serimonial yang berujung pada kebutuhan administrasi ketimbang isi materi dan semangat perjuangan. Toh, kita juga masih menghadapi banyak PR (pekerjaan rumah)—dari sistem kepustakawanan yang masih belum sepenuhnya terarah, hingga kurangnya koordinasi antarperpustakaan, dan ahli perpustakaaan yang seharusnya bergerak dalam satu visi besar.
Tetapi mengapa momen sebesar Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia seakan-akan terlupakan. Padahal, inilah salah satu fondasi penting bagi dunia perpustakaan Indonesia.
Sejarah bukan hanya sekadar seremonial. Ini adalah identitas. Ketika sejarah tidak lagi diingat, maka perlahan kita kehilangan arah. Padahal, sebagai pustakawan atau calon ahli perpustakaan, seharusnya membaca dan memahami akar perjuangan bidang ini.
Baca Juga: Memorabilia Pustakawan Sulawesi Selatan
Pidato Muhammad Yamin dan Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia seharusnya menjadi bagian dari corak berpikir kepustakawanan kita. Perpustakaan bukan hanya soal rak dan buku, tetapi juga tentang perjuangan literasi, akses ilmu pengetahuan, dan peran pustakawan dalam membangun masyarakat yang cerdas.
Jangan selalu berlindung pada kata “Perpustakaan dan Pemustaka” tampil-lah untuk menjamin kecerdasan pada masyarakat melalui perpustakaan, serta hadir pada aktivitas baca-membaca masyarakat.
Sudah saatnya kita menempatkan konferensi ini pada tempat yang semestinya, sebagai tonggak penting yang harus terus dikenang dan dijadikan inspirasi dalam memajukan perpustakaan di Indonesia. Mari perjuangkan hak dan kewajiban ahli-ahli perpustakaan yang tidak hanya sebagai institusi formal, tetapi sebagai gerakan yang benar-benar hadir untuk masyarakat.
Jangan termenung menunggu tamu terhormat yang datang, berupayalah sebelum senja menjelang, –Buletin Media Pustakawan, vol. 2, no. 3 September, 1995-