UCAPAN SELAMAT ULANG TAHUN HARI LAHIR JIP UINAM

UCAPAN SELAMAT ULANG TAHUN HARI LAHIR JIP UINAM

Oleh Blasius Sudarsono

Bertepatan dengan Dies Natalis Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, perkenankan saya mengucapkan Selamat berulang tahun hari jadi JIP-UINAM.

Tentu saya berharap agar JIP-UINAM tetap setia pada tugas menyiapkan pustakawan dengan pengetahuan dan kemampuan prima menghadapi segala perkembangan di masa depan.

Tidak ada salahnya pada saat ulang tahun, kita merefleksi diri atas capaian dan keinginan dalam meningkatkan misi pendidikan kepustakawanan kita.

Pertama, mungkin perlu kita ulang pertanyaan mendasar tentang sasaran apa yang diinginkan dengan pendidikan calon pustakawan ini. Dengan kalimat lain: “Manusia pustakawan seperti apa yang ingin dihasilkan?”

Dalam buku saya “Cerita tentang Pustakawan dan Kepustakawanan“ yang diterbitkan oleh Perpusnas RI pada 2018, saya menguraikan tentang makna akhiran “wan” yang melekat pada kata “pustaka”.

Secara mudah dapat saya katakan suatu jawaban atas pertanyaan tersebut, atau harapan saya bahwa makna itu seperti makna “wan” yang melekat pada kata semisal “Budayawan” atau bahkan “Negarawan”. Itulah harapan saya bagi “Pustakawan” masa depan.

Dengan kata lain, “pustakawan” menjadi “beyond” atau lebih dari sekadar profesi. Tentu hal ini menuntut suatu persiapan pendidikan yang berbeda dari kebiasaan pendidikan yang selama ini dikerjakan!

Saya juga sudah memberikan ancangan menuju ke arah masa depan itu, yaitu dengan dua rumusan. 1)  “Kerangka Dasar Kepustakawanan Indonesia” dan pasangannya yaitu 2)  “Janji Pustakawan Muda Indonesia”.

Terkait masa depan, saya melihat minimal ada tiga fenomena terpenting yang harus dicermati.

Fenomena pertama. Hidup kita yang dahulu kita sebut dengan konvensional menjadi modern, kemudian menjadi pasca modern (post-modernism), kini sudah masuk pada situasi yang dikenal dengan ”digimodernism”.

Di era ”digimodernism” tuntutan akan penguasaan TIK menjadi kemampuan pertama yang harus dimiliki. Kehidupan dapat dikata menjadi arena digital yang semakin mendominasi hidup sehari-hari. Meski TIK tetap sebagai alat, namun dengan memakainya menjadikan perubahan baik dalam filosofi dan praktik kepustakawanan.

Fenomena kedua yang berhasil saya intip adalah fenomena ”pasca kebenaran” atau ”post-truth phenomenon”. Semboyan yang sudah lama dianut dan diteriakkan oleh Pustakawan, bahwa dia akan memberikan ”right information for the right person”. Bahkan setelah informasi dapat diperoleh secara tepat, ada predikat baru yang ditambahkan yaitu ”right now”. Maka muncul semboyan layanan berbunyi ”right information for the right person, and right now”

Namun dengan fenomena pasca kebenaran (post-thruth) memunculkan pertanyaan: ”Apakah semboyan itu masih dapat dipertahankan?” Karena begitu banyaknya informasi yang tidak akurat.

Fenomena Ketiga terkait Studi Filsafat Ilmu Perpustakaan & Informasi

Tinjauan cukup lengkap tentang perkembangan terkini dalam Filsafat IP&I dapat disimak dan dipelajari dari karya David Bawden dan Lyn Robinson pada 2017 yang berjudul: Curating the infosphere: Luciano Floridi’s Philosophy of Information as the foundation for Library and Information Science.

Tulisan ini merupakan pengantar pada karya Luciano Floridi tentang Filsafat Informasi (FI) dan Etika Informasi (EI) yang sudah dikenalkan Floridi sejak 2002 sampai 2017. Tujuan dari Bawden dan Robinson ini guna menyimak ulang atas perjalanan pemikiran Floridi selama 15 tahun. Pemikiran filsafat Floridi berbeda dengan pemikiran filsafat sebelumnya, karena Floridi membangun pemikiran berdasar semakin cepat dan berkembangnya aplikasi berbasis Artificial intelligence (AI). Dikatakan oleh Floridi bahwa FI dan EI dapat dijadikan landasan konseptual bagi IP&I.

Bidang pembelajaran dan diskursus filsafati tentang IP&I perlu juga segera dikembangkan di Indonesia. Sudah banyak pertanyaan “mengapa” dan tidak melulu “bagaimana” yang kebetulan saya ketahui atau sampai ke saya dari mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan.

Pertanyaan “mengapa” itulah awal dari berpikir filsafati, tanpa harus menjadi ahli filsafat. Dalam hal ini Kepustakawanan Indonesia harus siap menentukan posisinya dalam hidup berbangsa dan bernegara, terutama bersiap untuk agenda tahun 2025 menuju 2045 nanti.

Akhirnya sebagai penutup, saya mengucapkan DIRGAHAYU JIP UINAM, sukses dalam menuju masa depan yang cerah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *