Oleh : Nasrullah
HYMNE GURU “Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku Sebagai prasasti, trimakasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa”.
Mendengar lirik lagu Hymne Guru karya Bapak Sartono seakan membuat kita terhipnotis serta tersentuh betapa besar jasa seorang guru bagi kehidupan kita, tidak dapat dipungkiri guru diibaratkan sebagai pelita dalam kegelapan, ketika kita masih berada dibangku sekolah kita seperti tidak tahu apa-apa layaknya kita berada pada kegelapan dan kekosongan, namun ketika hadirnya seorang guru bagaikan cahaya yang menerangi kegelapan, kita yang dulunya yang tidak tahu apa-apa diberikan dan diajarkan cara menulis, membaca dan menghitung. Guru yang begitu sabar bersusahpaya mengajarkan, menuntun dan memberikan arahan kepada kita tahap demi tahap sampai kita betul-betul bisa melakukan apa yang telah diajarkan oleh guru kita.
Berbicara tentang guru setiap tanggal 25 November diperingati Hari Guru Nasional sebagai mana yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Ditanggal yang sama 25 November juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia yang biasa disingkat dengan PGRI pada tahun 1945. Hari Guru Nasional dimaknai sebagai penghormatan kepada semua guru di Indonesia atas jasa-jasanya yang telah mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dan negara ini. Tanggal 25 November selain diperingati Hari Guru Nasional, Hari Lahir PGRI juga bisa dikatakan sebagai Hari Ulang Tahun Guru se-Indonesia.
Setelah sedikit berceloteh tentang Hari Guru, selanjutnya sesuai dengan judul tulisan ini yakni “Guru Pahlawan Literasiku” saya akan sedikit bercerita tentang hal tersebut. Guru sangat berperan dalam dunia pendidikan tidak dapat dipungkiri bahwa guru sangatlah membantu dan memberikan sumbangsih terhadap kecerdasan anak bangsa, bisa dibayangkan apa jadinya ketika tidak ada guru yang telah mendidik kita, mungkin kita tidak akan bisa seperti sekarang.
Sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) kita sudah diajarkan bagaimana cara membaca, menulis, dan berhitung atau biasa disebut kegitan Literasi. Kegiatan literasi seperti membaca diajarkan oleh guru mulai mengenal huruf A sampai Z, mengeja bacaan seperti “Ini Budi, Ini Bapak Budi” dan sebagainya sampai kita betul-betul mampu untuk membaca secara lancar.
Kegiatan Literasi selanjutnya yakni guru mengajarkan kita cara menulis, guru menuntun kita secara sabar bagaimana cara memegang pensil atau pulpen dengan benar serta bagaimana cara menulis bentuk huruf dan angka yang benar.
Kegiatan Literasi selanjutnya yang diajarkan guru yakni menghitung, kegiatan inilah yang paling susah yang diajarkan oleh guru kepada siswa karena kegiatan menghitung merupakan kemampuan dari siswa itu sendiri. Adanya siswa yang kurang dalam kemapuan berhitung membuat para guru harus ekstra lebih keras mengajarkan dan mengarahkan siswa agar mampu menjawab soal hitungan yang dikerjakan.
Perlu diketahui bahwa Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 4 ayat 5 yang berbunyi “Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat”. Undang-Undang tersebut menyinggung tiga pilar utama yakni membaca, menulis dan berhitung maka otomatis gurulah yang memiliki peranan penting dalam mengajarkan tiga pilar kegiatan Literasi tersebut.
Kemampuan literasi seperti membaca, menulis dan menghitung yang kita miliki saat ini tidak lepas dari peran guru yang telah mengajarkan kita dengan penuh kesabaran maka tidak salah ketika kita menyebut bahwa guru sama halnya dengan Pahlawan Literasi.
Tiga pilar utama yakni membaca, menulis, dan menghitung merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar kelak kita tidak dibodohi oleh perkembangan zaman atau bahkan dibodohi oleh manusia itu sendiri, maka dari itu momentum Hari Guru Nasional seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk berterima kasih kepada para Pahlawan Literasi kita yakni Guru, yang telah bersusah payah dan sabar dalam memperkenalkan dan mengajarkan kita pada kegiatan Literasi yakni membaca, menulis, dan menghitung.
Selamat Hari Guru Nasional kepada seluruh Guru di tanah Air Indonesia, Terima kasih telah mengajarkan kami banyak hal mulai dari membaca, menulis, dan menghitung serta masih banyak yang lainnya, semoga Allah senantiasa membalasnya dengan balasan yang terbaik, AMIN.
*Penulis merupakan dosen jurusan ilmu perpustakaan UIN Alauddin Makassar dan ketua umum HIMAJIP 2014.
