Ketika berbicara tentang peradaban kuno, banyak orang mungkin lebih akrab dengan piramida Mesir atau tembok raksasa Babilonia. Namun, ada satu warisan yang tidak kalah penting: Perpustakaan Ashurbanipal, perpustakaan tertua yang pernah ditemukan di dunia. Pendirinya, Raja Ashurbanipal dari Kekaisaran Neo-Asiria (memerintah sekitar 669–631 SM), bukan hanya seorang penguasa tangguh tetapi juga seorang pecinta ilmu pengetahuan yang luar biasa.
Perpustakaan ini mengumpulkan lebih dari 30.000 tablet tanah liat beraksara paku yang ditulis dalam bahasa Akkadia dan Sumeria. Koleksi tersebut mencakup berbagai bidang pengetahuan, termasuk sastra, ilmu pengetahuan, agama, dan administrasi. Salah satu karya sastra penting yang ditemukan di perpustakaan ini adalah Epos Gilgamesh, yang dianggap sebagai salah satu karya sastra tertua di dunia.
Ashurbanipal menunjukkan minat yang mendalam terhadap pengetahuan dan literasi, suatu karakteristik yang jarang ditemui pada pemimpin militer pada zamannya. Ia tidak hanya mampu membaca dan menulis dalam aksara paku, tetapi juga secara aktif mengirim utusan ke berbagai wilayah untuk mengumpulkan teks-teks kuno dan langka. Tindakan ini mencerminkan kesadarannya akan pentingnya pengetahuan sebagai alat kekuasaan dan warisan budaya.
Perpustakaan Ashurbanipal: Pusat Pengetahuan Kuno
Ashurbanipal dikenal sebagai salah satu raja yang memiliki keingintahuan intelektual yang tinggi. Tidak seperti kebanyakan penguasa pada masanya, ia dapat membaca dan menulis dalam berbagai bahasa, termasuk Akkadia dan Sumeria. Ia tidak hanya menguasai strategi perang, tetapi juga memahami pentingnya literasi dalam mengelola sebuah kekaisaran.
Baca Juga: Perpustakaan Perpustakaan Makassar
Sadar akan pentingnya pengetahuan, Ashurbanipal mengumpulkan lebih dari 30.000 tablet tanah liat yang berisi berbagai teks beraksara paku. Koleksi ini mencakup mitologi, astronomi, pengobatan, hukum, matematika, dan strategi militer. Salah satu teks yang paling terkenal dari perpustakaannya adalah Epos Gilgamesh, kisah epik yang disebut sebagai salah satu karya sastra tertua di dunia.
Metode Koleksi yang Kontroversial
Meski Perpustakaan Ashurbanipal menjadi sumber pengetahuan yang luar biasa, cara pengumpulannya tidak selalu mulia. Banyak tablet yang dikumpulkan dengan cara menjarah wilayah-wilayah taklukan, terutama dari Babilonia. Namun, tindakan ini juga menunjukkan visinya yang jauh ke depan—ia ingin menyelamatkan dan melestarikan ilmu pengetahuan, meski harus memperolehnya melalui peperangan.
Warisan yang Tak Ternilai
Perpustakaan Ashurbanipal akhirnya terkubur akibat kehancuran ibu kota Niniwe pada tahun 612 SM. Namun, ribuan tahun kemudian, pada abad ke-19, arkeolog Austen Henry Layard menemukan kembali koleksi ini, membuka wawasan baru tentang sejarah peradaban Mesopotamia.
Warisan Ashurbanipal membuktikan bahwa kekuatan sejati sebuah peradaban tidak hanya terletak pada pasukan dan wilayahnya, tetapi juga pada pengetahuan dan literasinya. Di era modern ini, kita bisa belajar dari visinya: melestarikan ilmu pengetahuan adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa sebuah peradaban tetap hidup dalam sejarah.
