Oleh: A. Zahraturugaisyiyah
Terlambat, Perpustakaan Umum Multimedia Sulawesi Selatan harusnya berbenah sejak dulu, sebelum pandemi Covid-19 melanda. Sangat disayangkan, perpustakaan yang mengusung nomenklatur multimedia keok.
Di kepala saya, definisi sederhana multimedia yaitu kecanggihan. Jikalau multimedia saja keok dalam pandemi, bagaimana dengan analog. Terbukti, Perpustakaan Multimedia tidak canggih-canggih amat karena masih menggunakan sistem konvensional. Pemustaka harus mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku, sementara pandemi masih berlangsung.
Dengan dalih menganut sistem semidigital bisa dikata Perpustakaan Umum Multimedia Sulawesi Selatan masih setengah-setengah dalam mengoperasikan perpustakaan digital. Pihaknya masih menggunakan sistem konvensional pada bagian koleksi. Misalnya, saat ingin meminjam buku, pemustaka masih harus menenteng buku ke rumah meski sistem reservasi pinjamannya digital.
Cara kerjanya muluk-muluk. Pemustaka disuruh mencari buku di OPAC sekaligus mencari ulang buku di rak. Setelah itu, pergi ke bagian reservasi peminjaman untuk mendapat persetujuan.
Padahal, perpustakaan bisa membuat sistem yang lebih praktis. Salah satu sistem digital yang sudah dirancang jauh sebelum pandemi. Pada tahun 1971, Michael S. Hart mendirikan sebuah proyek yang bernama Gutenberg Project. Proyek ini melakukan digitalisasi buku-buku yang telah habis masa kadaluarsanya.
Nyaris sama dengan Gutenberg Project, Perpustakaan Nasional RI melakukan terobosan digital dengan membuat aplikasi perpustakaan yang bernama iPusnas. iPusnas adalah aplikasi perpustakaan yang berbasis digital atau ePustaka. iPusnas ini dapat di akses oleh gadget mana pun selama tersambung oleh jaringan (online). Aplikasi ini dilengkapi dengan eReader dan eBook yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.
Jika kita mengakses aplikasi iPusnas dari gadget, kita dapat merasakan perpustakaan dalam genggaman kita. Ketika kita ingin meminjam buku di aplikasi iPusnas, kita hanya butuh waktu semenit untuk melakukan peminjaman.
Seharusnya, jika Perpustakaan Umum Multimedia Sulawesi Selatan serius menerapkan sistem digital, bisa memberikan sumbangan signifikan dalam mengurangi orang-orang galau di rumah. Termasuk, orang yang susah menjangkau perpustakaan, seperti tidak mempunyai kendaraan atau sibuk di rumah.
Dengan Perpustakaan digital, orang-orang bisa leluasa bermain di gadget, meminjam buku secepat kilat, dan membaca sepuasnya sesuai waktu yang ditentukan tanpa harus keluar rumah.
Seperti yang saya alami pada saat pandemi, ketika ada tugas kuliah yang mengharuskan ke perpustakaan, saya harus meminta bantuan kepada teman dikarenakan saya tidak bisa mengendarai kendaraan sekaligus harus menuruti protokol kesehatan. Hal ini membuat saya merasa kesusahan dalam menjangkau perpustakaan yang masih menggunakan sistem hybrid.
Maka dari itu, untuk sistem perpustakaan post-pandemi kita harus memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Perpustakaan sekarang harus bisa berbasis digital sekaligus ramah lingkungan. Selain itu, perpustakaan harus berlomba-lomba untuk membuat sistem dengan user friendly.
User friendly adalah kemampuan perpustakaan untuk menyesuaikan diri dengan para pemustaka dari kalangan mana saja. Menurut Retno (2012), perpustakaan yang “user friendly” adalah:
- Layanan yang baik, yaitu pelayanan yang berorientasi pada user. Petunjuk dengan tulisan yang jelas, jaringan yang memadai, sistem yang mudah diakses, dan informasi yang mudah dicari oleh user.
- Sarana fisik perpustakaan yang mendukung.
- Kebijakan dan peraturan yang berorientasi pada user, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan user tanpa merugikan perpustakaan.
Dalam webinar bertopik “25 Tahun Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca”, diperoleh informasi tentang tiga strategi yang mesti diterapkan diterapkan perpustakaan pada masa pandemi. Salah satunya adalah layanan virtual di zona oranye dan merah yang risiko penularan Covid-19 tinggi.
Perpustakaan harus menggunakan media yang memungkinkan pemustaka memanfaatkan layanan perpustakaan tanpa harus datang ke perpustakaan. Bisa pula berkolaborasi dengan perpustakaan lain karena tidak mungkin suatu perpustakaan memiliki semua koleksi yang dibutuhkan.
Inilah yang kita temukan di aplikasi Onesearch.id. Situs ini merupakan pintu pencarian tunggal untuk semua koleksi publik dari perpustakaan, museum, dan arsip di seluruh Indonesia. Selain itu, portal ini juga menyediakan akses ke sumber elektronik internasional (e-resources).
Boleh dibilang, portal semacam Onesearch.id ini mengefektifkan waktu seseorang dalam mencari bahan pustaka. Terlebih lagi, kalau kita ingin mencari bahan pustaka dengan jumlah banyak sekaligus perpustakaan yang berbeda.
Demikianlah, perpustakaan selain meningkatkan kompetensi pustakawan, juga harus memperkuat layanan digital, yaitu dalam hal penyediaan koleksi, layanan sirkulasi, referensi, dan penyelenggaraan kegiatan secara online.
Perpustakaan Sulsel, semangat, ya!****
A. Zahraturugaisyiyah adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar. Ia berasal dari Palu, Sulawesi Tengah dan bisa dihubungi lewat Instagram @zhrgsyyh.
*Penulis merupakan Ketua Bidang IT & Sosmed HIMAJIP Periode 2021-2022 dan bekerja sebagai mahasiswa paruh waktu

