Oleh: Nasrullah
Hari Buku Anak Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 2 April merupakan momentum untuk mengkampanyekan kepada seluruh masyarakat agar membiasakan anak-anaknya untuk terbiasa bersahabat dengan buku sejak dini. Terbiasa membaca buku sejak dini tentu akan memberikan perkembangan pola pikir pada anak agar dewasa nanti akan lebih kritis dalam menentukan sikap serta dapat menambah wawasan pengetahuan sebagai bekal di dalam menjalani kehidupan dewasa kelak.
Ketika berbicara tentang budaya baca, di Indonesia sendiri masih terbilang cukup rendah, terbukti dengan banyaknya survey yang belum bisa di banggakan dari beberapa penyelenggara survey di dunia. Jika kita melihat angka buta huruf di Indonesia sudah semakin kecil tetapi yang menjadi persoalan ialah masalah pada mereka yang sudah bisa membaca tetapi tidak mau membaca. Nah, tentu di sini adanya faktor yang menyebabkan terjadi yang demikian.
Ada yang mengatakan bahwa dunia anak merupakan dunia bermain, tapi sebetulnya salah jika kita beranggapan bahwa dunia anak biarlah kerjaannya hanya bermain saja, padahal usia anak itu merupakan moment krusial pada perkembangan hidup manusia yang menjadi pondasi awal dalam membangun karakter anak itu sendiri.
Apa yang terjadi saat ini mungkin merupakan kekeliruan nenek moyang kita terdahulu di mana kita diajarkan hanya untuk mendengar, seperti mendengarkan dongeng sebelum tidur yang membuat kita nyaman pada zona mendengarkan dongeng tersebut dibandingkan kita sendiri yang membaca buku tersebut.
Perkembangan teknologi pun kini menjadi salah satu ancaman dunia anak untuk lebih bersahabat dengan buku, salah satunya yakni kehadiran gadget atau smartphone yang tentunya akan mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan anak.
Contoh kecil yang bisa kita lihat yakni anak yang belum cukup 1 tahun ketika dia menangis orangtuanya lebih cenderung memberikan handphone untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak kembali menangis. Nah contoh tersebut tentunya kita alami saat ini, sehingga anak lebih dekat dengan gadget dibandingkan dengan buku. Meskipun tidak semua orangtua seperti itu dalam mendidik anak tetapi contoh tersebut lebih sering kita dapatkan di orang-orang terdekat kita.
Buku dan gadget ketika kita memberikan pilihan kepada anak, tentunya sebagian besar akan memilih gadget, karena ada fitur yang menyenangkan pada gadget yang bisa menjadi hiburan tersendiri pada anak sehingga mengalihkan perhatian anak-anak pada buku. Hiburan ini bisa mereka dapatkan dengan bermain game di gadget yang mempunyai daya tarik yang lebih dari sebuah buku sehingga faktor ini menjadi penghambat rendahnya minat anak pada buku. Ini merupakan tantangan kepada penulis dan penerbit untuk lebih kreatif menghadirkan buku-buku yang lebih menarik sehingga dapat menimbulkan keinginan anak untuk membacanya.
Sebenarnya, kunci dari segala hal ini yakni peran keluarga yang menjadi sumbu utama dalam menjawab segala persoalan anak dalam mencintai sebuah buku. Faktor pendukung keluarga mempunyai peran strategis dalam membangun budaya baca pada anak, keluarga tentu merupakan pondasi awal yang digunakan untuk membentuk watak, karakter dan budaya serta perilaku seorang anak untuk menjadi seseorang menjadi anak yang suka membaca.
Contoh kecil yang bisa dilakukan keluarga yakni membiasakan sejak dini anak bersama buku, seperti menyediakan buku bacaan di dalam rumah sehingga buku menjadi hal yang tidak asing bagi mereka, kemudian orangtua mencontohkan setiap hari kebiasaan membaca buku agar anak bisa melihat apa yang dilakukan orangtuanya. Dari hal kecil itu diharapkan mampu memberikan sedikit pondasi awal dalam membangun budaya baca melalui peran keluarga.
Dengan adanya momentum hari ini, diharapkan peran pemerintah sebagai regulator dan inisiator dalam membuat kebijakan-kebijakan tentang perbukuan dan minat baca, penerbit sebagai penyedia produksi buku serta penulis sebagai penghasil karya itu saling mendukung dan bersinergi untuk menghasilkan buku-buku yang berkualitas dan menarik untuk menciptakan anak yang dekat dan bersahabat dengan buku, sehingga akan hadir anak-anak yang mampu menjadi generasi cerdas dan kritis di dalam mengarungi perkembangan dan kemajuan teknologi di masa depan.

