“Sakit Yang Teramat Bebal” Oleh : Rifa’Atul Mahmudah

Sampai kapan?
Kita terlalu tega pada diri.
Membiarkannya hancur dengan sengaja, tergerus dimakan cakrawala.

Sampai kapan kita mau menyiksa diri? Sampai kapan kita terus merasa iri, Sampai kapan kita membandingkan diri pada hidup diluar pribadi.

Kita begitu indah, sampai kemudian kita membandingkannya pada dia yang dianggap sempurna. menurut definisi otak sempit, kita cukup dengan segala apa yang kita miliki.

Sampai kemudian kita membandingkannya, lagi lagi dan lagi.
Kita bahagia sampai kemudian perbandingan itu ada dan menjadi bumerang pada diri, membiarkan diri terus berkompetisi pada kebodohan.

Hidup kita akan baik-baik saja.
Sebelum kita membandingkannya pada hidup dan diri orang lain, kita lalu mendefinisikan segala hal, mematok standar kebahagiaan, mengukur standar keindahan, lalu terus mulai memaksakan keberuntungan mereka pada diri kita. Dan kita tetap selalu merasa kurang, lalu mengutuk diri dari kedunguan.

Kita memang hobi dalam menyiksa diri.
Ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan cara dalam menikmati hidup.
Hanya kita saja yang malah memilih cara paling menyiksa diri.

Bersyukurlah, dan cukup itu ada. Dan cukuplah maka tenang itu datang, karna sakit itu berasal dari diri sendiri, tidak pada Orang lain, bukan pula karna orang lain.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, semester V.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *