Oleh : Titin Wahyuni
Di tahun ini jiwa nelangsa berkabut pilu
Dari endemik menjadi pandemik
Berita wabah kian menguasai dunia
Termasuk negeri tercinta, Indonesia
Dari waktu ke waktu
Manusia terjangkit virus melonjak tinggi
Sampai akhirnya sang penguasa menggaungkan
“Di rumah saja”
Semua akses di tutup
Dari satu wilayah ke wilayah lain
Untuk memutuskan rantai penyebaran virus
Yang kian hari semakin menjadi korbannya.
Ada jiwa yang menolak
Ada jiwa yang memberontak
Menutup telinga tak peduli
Hilang pekerjaannya
Sekarat ekonominya
Apa daya yang lemah tak mampu melawan petinggi
Dalam menelisik solusi
Ada yang menderma
Ada yang berbelas kasih
Membantu semampunya untuk saudaranya
Di sisi lain sang penguasa mendeklarasikan kebijakan lain Bertolak akal sehat pada perintah yang kian ambigu
Semua jiwa yang berwaras bertabur kecewa pada empunya penguasa
Kata “di rumah saja” terus digaungkan
Memakai masker terus diingatkan
Jaga jarak terus diperingatkan
Lalu mengapa pada akhirnya semua seperti omong kosong?
Usaha dikhianati pada sebuah kebijakan
Pemacu keramaian menjaring jiwa-jiwa yang lama haus euforia Mall terbuka lebar, tempat ibadah tetap di sunyikan
Di mana persatuan jika si empunya penguasa tidak konsisten
Sang penyelamat pun terkesan putus asa
Meringis sedih melihat apa yang terjadi
Bingkai kekecewaan terpampang nyata
Dan korban positif terpapar virus kian bertambah
Kata “di rumah saja” perlahan hilang makna
Bagaimana dengan sila ke 3 pancasila tercipta?
Jika sang penguasa gagal berkacamata pada keadaan Rakyatnya bersimpang-siur mendalami keadaan
Bagaimana dengan sepotong kalimat yang termaktub dalam UUD 1945?
Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Mari serentak bersatu menghilangkan egoisme
Di tengah badai cobaan negeri ini
Kalimantan Utara, 23 Mei 2020

